Hibriditas, mimikri, dan ambivalensi dalam novel Negeri 5 Menara karya A. Fuadi: kajian poskolonial

Main Article Content

Salsa Aulianisa Mayasafa

Abstract

Penelitian ini mengkaji konsep hibriditas, mimikri, dan ambivalisme dalam novel Negri 5 Menara karya A. Fuadi melalui pendekatan poskolonial Homi K. Bhabha. Kajian ini bertujuan untuk memahami bagaimana tokoh-tokoh dalam novel membentuk dan menyesuaikan identitas mereka ketika nilai-nilai budaya lokal bertemu dengan budaya Barat. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui upaya tokoh dalam mempertahankan tradisi sambil beradaptasi dengan arus modernitas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang digunakan untuk mencari ciri- ciri, unsur-unsur, sifat-sifat atau fenomena. Hasil penelitian ini menunjukan adanya hibriditas kultural yang tampak dalam unsur bahasa, budaya, dan pola pikir. Mimikri terlihat dari perilaku tokoh yang meniru gaya hidup Barat, baik dari kebiasaan sosial, pendidikan, maupun pola pikir Barat. Sementara itu, ambivalisme muncul ketika tokoh berada dalam tarik menarik antara penerimaan dan penolakan untuk memilih jalan hidupnya. Simpulan dari 
ketiga kategori tersebut berupa perjuangan mempertahankan identitas 
masyarakat poskolonial serta proses pembentukan jati diri di tengah arus 
modernitas.

Downloads

Download data is not yet available.

Article Details

Section

Articles

How to Cite

Mayasafa, S. A. . (2026). Hibriditas, mimikri, dan ambivalensi dalam novel Negeri 5 Menara karya A. Fuadi: kajian poskolonial. Coretan Bahasa : Journal Indonesian Language and Literature, 1(1), 1-8. https://coretanpena.org/jill/article/view/2

References

Ashcroft, B., dkk. (2003). Menelanjangi Kuasa Bahasa: Teori dan Praktik Sastra Postkolonial.

Qalam, Yogyakarta.

Bhabha, H. K. (1994). Remembering FANON; Self, Psyche and the Colonial Condition. Dalam

P. William & L. Chrisman (Eds.), Colonial Discourse and Postcolonial Theory (hlm. 181- 198).

Columbia University Press, New York.

Fuadi, A. (2009). Negri 5 Menara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kartodirdjo, S. (1990). Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500–1900, Dari Emporium

sampai Imperium. Jakarta: Gramedia.

Nasri, D. (2016). Ambivalensi kehidupan tokoh Larasati dalam roman Larasati karya

Pramoedya Ananta Toer: Kajian pascakolonialisme. Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra,

7(1), 25–36.

Ratna, N. K. (2008). Postkolonialisme Indonesia. Pustaka Belajar, Yogyakarta.

Rukundwa, L. S., & Van Aarde, A. G. (2007). The formation of postcolonial theory. HTS

Teologiese Studies / Theological Studies, 63(3), 1171–1194.

Sinaga, R. M. (2004). Identitas dan nasionalisme. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Singh, J. G. (2009). Colonial narratives/cultural dialogues: 'Discoveries' of India in the

language of colonialism. Routledge.

Suryana. (2010). Metodologi Penelitian. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Suwondo, T. (2016). Sastra dan pembentukan karakter kebangsaan. Humaniora, 28(2),

123–134

Utami, P. T., Fuad, M., Suyanto, E., & Samhati, S. (2023). Tokoh Pribumi dalam Relasi Barat-

Timur: Kajian Poskolonial dalam Novel Helen dan Sukanta Karya Pidi Baiq. Edukasi

Lingua Sastra, 21(1), 23-32.

Wibisono, G. (2018). Identitas ganda dalam masyarakat pascakolonial. Jurnal Kajian Budaya,

13(1), 45–56.

Wijaya, B. Y., & Halimatussa’diah, D. N. (2020). Bentuk-bentuk konstruksi identitas

postkolonial dalam novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. GENRE: Jurnal Bahasa,

Sastra, dan Pembelajarannya, 2(1), 42–45. Universitas Ahmad Dahlan.

Young, R. J. C. (2001). Postcolonialism: An Historical Introduction. Blackwell Publishers,

Oxford.